Penulis: Luthfi Mutty Opu To Ampanangi (Ketua Bidang Eksekutif DPP NasDem)
Nama lengkapnya Andi Muchlis Pangerang. Tetapi dia lebih senang menyebut dirinya Anthon. Anthon Andi Pangerang. Begitulah Andi Anthon menuliskan namanya. Saya yang terbilang cucu dari almarhum menyapanya dengan Puang Anthon. Sapaan ini digunakan di lingkungan keluarga kami kepadanya.
Selasa subuh (7/2/2022) saya mendapat berita. Puang Anton meninggal dunia. Setelah terbaring karena sakit yang dideritanya . Innalillahi wainna Ilaihi rajiunrajiun.
Saya mengenal dan bergaul dgn Puang Anthon cukup lama. Lebih dari 50 tahun. Tentulah banyak kenangan selama masa pergaulan yang panjang itu. Namun yang paling terkesan adalah saat saya memugar kompleks makam Dato’ Sulaiman. Yang lebih dikenal dgn Dato’ Pattimang. Muballik asal Minangkabau yg mengislamkan Lapatiware. Pajung/Datu Luwu XV. Yg makamnya berada dalam area makam La Patiware Opu Daeng Parabbung. Atas saran Puang Anthon, kemudian dibangun baruga di dalam kompleks makam. Sketsa baruga itu dibuat oleh Puang Anthon. Yang menjadi acuan konsultan dalam mendisain baruga itu. Selanjutnya Puang Anthon terlibat dalam proses pemugaran kompleks makam dan pembangunan baruga sebagai “konsultan”. Hal ini membuat Puang Anthon berhitung bulan tinggal di Pattimang.
Bersamaan dengan proses pemugaran itu, Puang Anthon juga menjadi “konsultan” dalam mempersiapkan Seminar Internasional I Lagaligo dan Festival Sawerigading. Puang Anthon menjadi penghubung dengan narasumber dalam dan luar negeri, dan juga dengan kerajaan kerajaan yang merasa memiliki keterkaitan dengan Sawerigading.
Baruga itulah yang menjadi tempat Wakil Presiden Hamzah Has, melakukan pengresmian selesainya pembangunan jalan beton poros Masamba – Malangke dan Pembukaan Seminar Internasioal I Lagaligo dan festival Sawerigading, tahun 2003
Baca Juga : OPINI: Meneropong Dinding Pembuluh Koroner dengan Pencitraan Intra Koroner
Di sela-sela semua kegiatan itu, saya banyak berdiskusi dan mendapat pengetahuan mengenai “Sureq Galigo”. Juga tentang pesta dalam perspektif budaya. Bagi Puang Anthon, pesta di kekinian telah kehilangan banyak makna. Tidak lagi bermakna membangun solidaritas sosial. Munculnya event organizer (EO), di satu sisi memudahkan bagi yang berpesta. Tapi di sisi lain mereduksi partisipasi warga dan keluarga. Maka, pesta tidak lagi bermakna sebagai alat kontrol sosial. Karena, seburuk apapun perilaku sosial orang yang berpesta, karena dia memiliki banyak uang, maka pesta dapat dibuat meriah tanpa harus meminta warga dan keluarga ikut turun tangan membantu.
Puang Anthon memang sangat antusias jika berbicara tentang I Lagaligo. Naskah klassik yg berasal dari Luwu. Ditulis dengan huruf dan bahasa bugis kuno. Manuskrip yang terdiri atas 300.000 baris teks atau 9.000 halaman folio, menjadikan I Lagaligo naskah terpanjang di dunia. Lebih panjang dari naskah Homeros dari Yunani. Dan kitab Mahabarata dari India. Di dalamnya berisi cerita dalam bentuk puisi menyangkut tatanan dan tuntunan hidup orang bugis. Sarat dengan nilai2, sistem religi, ajaran kosmos, adat istiadat, bentuk dan tatanan masyarakat/pemeerintahan, pertumbuhan kerajaan2 di tana bugis, sistem ekonomi/perdagangan, keadaan geografis dan peristiwa penting yg pernah terjadi.
Bagi masyarakat pra Islam di Sulawesi Selatan, Sureq Galigo menjadi kitab suci. Sejak 2011, naskah ini oleh UNESCO ditetapkan sebagai “Memory of the World”. Karena mengandung literatur dan ingatan kolektif dunia. Lebih dari separuh hidup Puang Anthon diabdikan utk I Lagaligo.
Baca Juga : Buku Maestro Aru Tu Mangkarasarak Sukman Daeng Talli Resmi Diluncurkan
Saya hadir bersama Puang Anthon menyaksikan penampilan perdana teater musikal I Lagaligo di Esplanade Singapore tahun 2006. Penampilan ini mengawali perjalanan panjang I Lagaligo keliling dunia. Teater ini disutradari oleh Robert Wilson. Sutradara berkelas dunia asal Amerika Serikat. Setelah melanglangbuwana selama 5 tahun, tampil di di puluhan kota pada 9 negara, I Lagaligo akhirnya pulang kampung. Saat akan pentas di Benteng Fort Rotterdam Makassar April 2011, Puang Anthon menelpon saya. Meminta agar saya dapat hadir memberi sambutan mewakili Dewan Adat Kedatuan Luwu. Ketika itu saya belum menjadi anggota Dewan Adat 12.
Puang Anthon telah pergi untuk selamanya. Meninggalkan I Lagaligo, memory of the world. Kitab yg sangat dicintainya. Maka tepatlah jika gelar kematian yg dilekatkan Dewan Adat 12 Kedatuan Luwu kepadanya: OPU MPELAI SEREQ GALIGONA.
Selamat jalan Puang Anthon. Kepergianmu diantar begitu banyak kerabat, handaitolan dan warga dari berbagai lapisan. Sakaligus menandai pestamu telah berkahir.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News
Komentar